Unitomo Petakan Carangwulung dari Udara, Siapkan Fondasi Digital Desa Wisata

Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya menerjunkan teknologi pemetaan udara untuk menyiapkan basis data geospasial sebagai fondasi pengembangan desa wisata berbasis digital.

JOMBANG, srjatim.co.id – Desa Wisata Carangwulung di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, kini mulai dipetakan dengan teknologi berpresisi tinggi. Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya menerjunkan teknologi pemetaan udara untuk menyiapkan basis data geospasial sebagai fondasi pengembangan desa wisata berbasis digital.

Langkah tersebut menjadi bagian dari Riset Konsorsium Unggulan Berdampak yang mempertemukan Universitas Dr. Soetomo, Telkom University Bandung, serta mitra industri. Riset yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun anggaran 2026 itu mengusung pengembangan Sistem Geoinformatika dan model Smart Village Tourism berbasis Geographic Information System (GIS).

Unitomo mendapat peran penting dalam pengumpulan data lapangan. Mulai dari kondisi geografis wilayah, potensi destinasi, aksesibilitas, fasilitas pendukung, persebaran UMKM hingga atraksi budaya masyarakat Carangwulung.

Bacaan Lainnya

Untuk memperoleh gambaran wilayah secara detail, tim Fakultas Teknik Unitomo melakukan pemotretan udara menggunakan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Kegiatan tersebut dipimpin dosen Fakultas Teknik Unitomo Yunus Susilo, S.T., M.T.

Tim menggunakan drone VTOL CHCNAV P330 Pro yang mampu menghasilkan foto udara beresolusi tinggi dengan durasi misi penerbangan hingga 60 menit. Teknologi tersebut memungkinkan pemetaan wilayah dilakukan lebih rinci dibandingkan metode konvensional.

Namun, proses pemetaan tidak berlangsung tanpa tantangan. Karakter Desa Carangwulung yang memiliki kontur beragam membuat perencanaan jalur penerbangan harus disesuaikan secara khusus.

Wilayah desa kemudian dibagi dalam lima misi penerbangan. Dua misi dilakukan di kawasan utara dengan topografi yang relatif datar. Sementara tiga misi lainnya menyasar wilayah selatan yang didominasi kawasan perbukitan.

“Seluruh tahapan, mulai dari perencanaan jalur terbang hingga proses pengambilan gambar, disesuaikan dengan kondisi topografi Desa Carangwulung. Hal ini dilakukan agar foto udara yang diperoleh memiliki presisi tinggi dan dapat diproses menjadi data geospasial dengan standar teknis yang tinggi,” ujar Yunus.

Data foto udara tersebut selanjutnya tidak berhenti sebagai dokumentasi visual. Seluruh hasil pemotretan akan diolah menggunakan teknologi cloud photogrammetry atau fotogrametri berbasis komputasi awan.

Dari proses tersebut, tim akan menghasilkan visualisasi wilayah tiga dimensi yang mampu menggambarkan kontur dan kondisi fisik Desa Carangwulung secara lebih akurat.

Data itu nantinya menjadi salah satu fondasi pengembangan Sistem Geoinformatika Wisata Desa Carangwulung. Melalui sistem tersebut, pemerintah desa dan masyarakat diharapkan memiliki basis data yang dapat digunakan untuk merencanakan pengembangan destinasi, menentukan jalur wisata, mengidentifikasi fasilitas pendukung, hingga menghubungkan potensi ekonomi lokal dalam satu ekosistem digital.

Tidak hanya mengandalkan pendekatan teknis, Unitomo juga melibatkan Fakultas Ilmu Komunikasi untuk menghimpun potensi wisata sekaligus memproduksi konten digital.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Unitomo Zulaikha menjelaskan, setiap anggota konsorsium memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun sistem Smart Village Tourism tersebut.

“Masing-masing pihak mempunyai peran dalam proyek ini. Universitas Dr. Soetomo bertugas mengumpulkan data lapangan, baik berupa data geospasial, data potensi wisata, UMKM, maupun atraksi budaya. Seluruh data tersebut akan dikembangkan menjadi konten untuk mengisi sistem digital bagi pengembangan desa wisata. Sementara itu, Telkom University bertugas mengembangkan teknologi yang menjadi fondasi sistem Smart Village Tourism ini,” katanya.

Kolaborasi tersebut memadukan data teknis dengan informasi sosial, budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat. Dengan begitu, sistem yang dibangun tidak sekadar menjadi peta digital, tetapi juga diharapkan berkembang sebagai media promosi yang mempertemukan wisatawan dengan beragam potensi lokal Carangwulung.

Ketua Konsorsium Putu Hary Gunawan mengatakan, kolaborasi antarkampus dan mitra industri membuka ruang lebih luas bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Meskipun sehari-hari kami berkegiatan di Bandung, ternyata kami juga dapat ikut berkontribusi dalam pembangunan desa di luar provinsi kami. Hal ini dapat terwujud berkat kerja sama yang baik antara Telkom University, Universitas Dr. Soetomo, dan para mitra industri,” ujarnya.

Melalui sistem geoinformatika dan Smart Village Tourism tersebut, Desa Carangwulung diharapkan memiliki basis data wilayah yang mutakhir dan mudah dimanfaatkan. Data itu selanjutnya dapat menjadi pijakan dalam menyusun arah pembangunan desa wisata yang lebih terukur, memperkuat promosi digital, meningkatkan daya tarik destinasi, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Riset tersebut juga menjadi upaya membawa hasil penelitian keluar dari ruang akademik. Teknologi yang dikembangkan diarahkan agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memperkuat ekonomi lokal secara berkelanjutan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *