NGANJUK, srjatim.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terpantau di kawasan Gunung Wilis. Tak tanggung-tanggung, Stasiun Geofisika BMKG Nganjuk mendeteksi 46 titik panas (hotspot) di kawasan pegunungan tersebut pada Rabu (16/9/2026).
Prakirawan Stasiun Geofisika Nganjuk, Setiyaris, mengatakan puluhan hotspot itu terkonsentrasi di kawasan puncak Gunung Wilis, tepatnya di wilayah perbatasan Kabupaten Nganjuk dan Ponorogo.
Dari hasil pemantauan, sebanyak delapan titik panas berada di wilayah Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Kemudian 24 titik terdeteksi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, serta 14 titik di Desa Krisik, Kecamatan Pudak, Kabupaten Ponorogo.
“Sebaran tersebut meliputi 8 titik di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Nganjuk; 24 titik di Desa Banaran, Kecamatan Pulung; dan 14 titik di Desa Krisik, Kecamatan Pudak, Ponorogo,” ujar Setiyaris dalam keterangan tertulisnya.
Temuan puluhan hotspot tersebut langsung menjadi perhatian BPBD Kabupaten Nganjuk. Monitoring telah dilakukan untuk memastikan kondisi di lapangan. Namun, hingga Rabu, BPBD belum dapat memastikan objek yang terbakar maupun luasan area terdampak.
“Iya, masuk Ngliman. Belum bisa memastikan apa yang terbakar. Masih koordinasi sama Polres dan Perhutani,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Nganjuk, Purwo Hadi Setyo Wicaksono.
Indikasi kebakaran juga terlihat secara kasatmata dari wilayah yang cukup jauh. Kepulan asap dari kawasan Gunung Wilis tampak jelas dari Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, pada Rabu pagi.
BPBD Nganjuk sebelumnya juga sempat melakukan pemantauan terhadap kemunculan titik panas di kawasan yang sama. Dengan kembali terdeteksinya puluhan hotspot, kondisi kawasan Gunung Wilis kini menjadi perhatian, terutama untuk memastikan apakah titik panas tersebut merupakan karhutla dan seberapa luas wilayah yang terdampak.

















