Rawat Warisan Masa Lalu Nganjuk, Para Pelajar hingga Guru Digembleng Penulisan Sejarah Lokal

Jarwoto salah satu peserta pelatihan literasi sejarah Nganjuk menerima doorprize

NGANJUK, SRJATIM.CO.ID. – Sejarah sebuah daerah bisa perlahan hilang ketika tak ada yang mencatatnya. Kekhawatiran itulah yang mendorong puluhan pelajar, mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Sejarah Lokal Nganjuk dalam Festival Literasi Volume 2.0 di Gedung Wanita Nganjuk, Jumat (9/10/2026).

Sebanyak 100 peserta mengikuti pelatihan yang diinisiasi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Nganjuk tersebut. Mereka didorong untuk menggali, mendokumentasikan, dan menuliskan berbagai kisah masa lalu Nganjuk agar tetap lestari serta bisa diwariskan kepada generasi mendatang.

Bimtek ini menjadi salah satu agenda utama Festival Literasi Volume 2.0 yang mengusung tema Literasi Membangun Peradaban, Nganjuk Makin Melesat. Festival berlangsung selama tiga hari, 8–10 Oktober 2026, dengan beragam kegiatan untuk memperkuat budaya literasi di Kota Angin.

Bacaan Lainnya

Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro membuka kegiatan tersebut. Dalam agenda ini, keterlibatan lintas generasi menjadi perhatian penting, terutama untuk mendorong masyarakat mengambil peran aktif dalam merekam perjalanan sejarah daerahnya sendiri.

Salah seorang peserta, Jarwoto, S.Pd., mengaku bersyukur bisa mengikuti pelatihan tersebut. Pendidik yang menjadi pembina English Club di PP Asy Syafi Bagor sekaligus guru SDN Bandungan 02 Saradan itu menilai, bimtek menjadi kesempatan berharga bagi guru dan generasi muda untuk menghasilkan karya yang mengangkat sejarah lokal.

Menurut dia, masih banyak cerita tentang Nganjuk yang menarik untuk digali dan ditulis. Namun, tanpa dokumentasi yang baik, kisah-kisah tersebut berisiko hanya bertahan dalam ingatan dan akhirnya terlupakan.

“Saya sangat bersyukur dan bangga bisa ikut menjadi salah satu peserta Bimtek Kepenulisan Sejarah Lokal Nganjuk. Ini merupakan sebuah kesempatan untuk menuangkan cerita sejarah, khususnya yang berkaitan dengan Nganjuk,” ujar Jarwoto di sela-sela kegiatan.

Dia mengatakan, keikutsertaannya bukan sekadar untuk menambah pengetahuan tentang teknik menulis. Lebih dari itu, dia ingin turut menjaga identitas daerah melalui karya tulis yang dapat dibaca dan dipelajari generasi berikutnya.

“Ikut program ini karena ingin mempersembahkan suatu karya tulis, agar Sejarah Nganjuk tidak punah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” ujarnya.

Harapan para peserta semakin terbuka karena karya-karya yang dihasilkan dalam pelatihan tersebut direncanakan melalui proses kurasi untuk kemudian dibukukan secara resmi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Jakarta.

Dengan demikian, catatan sejarah lokal Nganjuk berpeluang menjangkau pembaca lebih luas dan menjadi bagian dari khazanah pustaka nasional.

Selain bimtek kepenulisan sejarah, Festival Literasi Volume 2.0 juga menghadirkan sejumlah agenda lain.

Di antaranya Ngopi Literasi Bareng Kang Marhaen, workshop keperpustakaan, bedah buku bersama penulis nasional, panggung kreativitas anak, lomba mewarnai tingkat taman kanak-kanak, hingga bazar UMKM.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *