NGANJUK, srjatim.co.id – Kebakaran melanda bangunan gudang rongsokan sekaligus area tempat pembuangan akhir (TPA) di Desa Paron, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Selasa (22/9/2026). Kobaran api membakar tumpukan material mudah terbakar seperti plastik dan kardus.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Nganjuk Imam Ashari mengatakan, laporan kebakaran diterima petugas sekitar pukul 08.40 WIB.
Karena lokasi kejadian relatif dekat dari markas komando (Mako) Damkarmat, petugas langsung menerjunkan dua unit mobil pemadam dengan kapasitas tangki masing-masing 5.000 liter dan 3.000 liter.
Besarnya kobaran api membuat petugas kembali meminta bantuan dari pos pemadam terdekat. Unit dari Pos Bantu Rejoso kemudian dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman.
“Karena situasinya kebakaran cukup besar, akhirnya kami minta bantuan pos yang terdekat, yaitu Pos Bantu Rejoso,” kata Imam saat ditemui di lokasi, Selasa (22/9/2026).
Hingga sekitar pukul 10.00 WIB, petugas masih melakukan proses pendinginan. Damkarmat memastikan personel tidak langsung meninggalkan lokasi meski kobaran api telah berhasil dikendalikan.
Menurut Imam, material yang terbakar didominasi plastik bekas, termasuk botol air mineral, serta tumpukan kardus. Material tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama karena api dan panas bisa bertahan di bagian bawah tumpukan meski bagian atas terlihat sudah padam.
“Kadang-kadang atasnya sudah padam, tetapi yang bawah tetap panas. Jadi kami terus melakukan penyemprotan,” ujarnya.
Untuk mempermudah akses menuju titik api, petugas bahkan terpaksa menjebol bagian pintu seng di belakang bangunan. Langkah tersebut dilakukan agar selang pemadam bisa diarahkan lebih dekat ke sumber api.
Dalam proses pemadaman, petugas mengerahkan sejumlah unit kendaraan pemadam. Imam menyebut sedikitnya 15 tangki air telah digunakan dan jumlah armada yang terlibat terus bertambah hingga empat unit.
Beruntung, kebakaran tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Lokasi kejadian yang berada tidak jauh dari permukiman warga membuat petugas memilih tetap berjaga hingga kondisi benar-benar aman.
Lebih lanjut Imam menjelaskan, petugas juga menggunakan alat bantu pernapasan atau self-contained breathing apparatus (SCBA) ketika harus masuk ke area dengan kepulan asap pekat. Peralatan tersebut digunakan untuk membantu petugas bernapas sekaligus menjangkau titik api yang sulit diakses.
“Alat itu diperuntukkan bagi rekan-rekan yang menghadapi asap terlalu pekat, sehingga bisa masuk ke lokasi titik apinya,” jelas Imam.
Terkait penyebab kebakaran, Imam menegaskan pihaknya belum dapat memastikan. Dugaan awal seperti korsleting listrik maupun puntung rokok masih didalami dan disebutnya menjadi kewenangan kepolisian.
“Tugas kami pemadaman. Untuk penyebabnya nanti biar teman-teman dari kepolisian yang memberikan penjelasan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Paron Partono juga mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab kebakaran. Namun, pihak desa sebelumnya telah mengingatkan pengelola tempat tersebut mengenai potensi kebakaran.
“Seminggu yang lalu sebenarnya sudah kami ingatkan. Saya minta disiapkan APAR (alat pemadam api ringan) dan alat pemadam secukupnya,” kata Partono.
Partono menyebut material yang berada di lokasi memang mudah terbakar, terutama plastik dan kardus dari aktivitas pengumpulan serta daur ulang barang bekas.
Terlebih, kondisi kemarau dan angin kencang meningkatkan risiko api cepat membesar. Karena itu, pemerintah desa juga telah meminta pengelola menyediakan APAR dan tandon air sebagai langkah antisipasi.

















