NGANJUK, SRJATIM.CO.ID – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (KPP) Kabupaten Nganjuk bersama tim gabungan melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Sukomoro dan salah satu toko swalayan di Nganjuk, Senin (5/10/2026).
Tim sidak gabungan melibatkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI, Perum Bulog Divre 5 Kediri, Polres Nganjuk, Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk.
Tak hanya menyasar perkembangan harga sejumlah komoditas pangan, tim gabungan juga mengecek ketersediaan stok serta keamanan dan mutu pangan yang beredar di tingkat konsumen.
Sekretaris Dinas (KPP) Kabupaten Nganjuk Novi Eka Fatmawati mengatakan, pengawasan pangan perlu dilakukan secara lintas sektor. Sebab, stabilitas pangan tidak hanya berkaitan dengan harga, tetapi juga menyangkut ketersediaan dan keamanan produk.
“Pengawasan pangan tidak hanya melihat harga, tetapi juga memastikan pangan yang beredar aman dan memenuhi standar mutu. Karena itu, sinergi antarinstansi menjadi penting agar perlindungan terhadap masyarakat sebagai konsumen dapat berjalan dengan baik,” ujar Novi.
Dalam sidak tersebut, tim antara lain memantau harga bawang merah dan beras. Hasil pemantauan menunjukkan harga bawang merah berada di kisaran Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.
Harga tersebut tercatat mengalami kenaikan dibandingkan pekan sebelumnya. Kondisi itu menjadi salah satu perhatian tim pengawasan, terutama menjelang akhir tahun ketika kebutuhan masyarakat berpotensi meningkat.
Temuan lain muncul pada komoditas beras. Tim mendapati beras merek Kibi dijual dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET).
Temuan tersebut kemudian ditelusuri tim. Petugas meminta keterangan dari pihak toko hingga menelusuri informasi harga dari produsen.
Dari penelusuran sementara, pihak toko menyebut tingginya harga jual disebabkan harga dari produsen yang juga sudah tinggi. Sementara produsen menyampaikan kenaikan harga berkaitan dengan tingginya harga gabah di tingkat petani.
“Alasan toko harga tinggi karena dari produsen sudah tinggi. Produsen mengatakan dari petani sudah tinggi, dari gabah itu, makanya harganya dinaikkan,” jelas Novi.
Namun demikian, dari pemantauan sejumlah komoditas lainnya tidak ditemukan persoalan berarti. Harga minyak goreng, misalnya, masih terpantau stabil.
Lebih lanjuy Novi mengatakan, pemantauan lapangan penting untuk mendapatkan gambaran faktual mengenai kondisi pangan. Selain mendeteksi potensi pelanggaran, pengawasan diharapkan mendorong pelaku usaha menjalankan perdagangan sesuai ketentuan.
Terlebih, Pemkab Nganjuk mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kenaikan harga beras, cabai, dan bawang merah menjelang akhir 2026.
Pengendalian dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Pemkab memperkuat pemantauan harga dan stok secara berkala serta memastikan kelancaran pasokan melalui koordinasi dengan Bulog dan pelaku distribusi.
Gerakan Pangan Murah juga akan dioptimalkan di wilayah yang mengalami kenaikan harga. Selain itu, sidak pasar akan terus dilakukan untuk memantau harga, ketersediaan, sekaligus keamanan pangan.
“Pemerintah daerah bersama instansi terkait akan terus melakukan koordinasi agar masyarakat memperoleh pangan yang aman, bermutu, tersedia, dan dengan harga yang wajar,” pungkas Novi.

















