NGANJUK, srjatim.co.id – Penanganan korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nganjuk terus dilakukan. Hingga Kamis malam (3/9/2026), Pemkab Nganjuk mencatat terdapat 127 korban yang mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 33 korban masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Sementara korban lainnya telah diperbolehkan pulang dan melanjutkan pemulihan dengan rawat jalan.
Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi memastikan pemerintah daerah terus memantau kondisi para korban. Hal itu disampaikannya saat menjenguk sejumlah pasien di RSUD Nganjuk dan RS Bhayangkara Nganjuk, Kamis malam.
Di RSUD Nganjuk, tercatat empat pasien masih menjalani perawatan dari total 28 pasien yang sebelumnya mendapatkan penanganan. Secara umum, kondisi mereka dilaporkan terus membaik dan sebagian direncanakan segera diperbolehkan menjalani rawat jalan.
Sementara di RS Bhayangkara Nganjuk, masih terdapat tujuh pasien yang dirawat dari total 27 pasien. Empat di antaranya dijadwalkan pulang pada Kamis malam untuk melanjutkan pemulihan di rumah.
Pasien lainnya masih mendapatkan penanganan di RSI Aisyiyah Nganjuk serta sejumlah puskesmas yang tersebar di wilayah Kabupaten Nganjuk.
Pemkab Nganjuk juga memberi perhatian terhadap persoalan biaya pengobatan. Marhaen menyampaikan pemerintah daerah siap memastikan korban mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa terbebani biaya.
Untuk mekanisme pembiayaan tersebut, Pemkab Nganjuk akan berkoordinasi dengan pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyiapkan dan mendistribusikan makanan MBG.
“Kami akan koordinasi dengan pihak SPPG terkait biaya pengobatan korban,” ujar Marhaen.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Nganjuk memastikan seluruh korban memperoleh penanganan hingga kondisi mereka benar-benar pulih.
Sebelumnya, dugaan keracunan MBG terjadi setelah sejumlah siswa SMAN 3 Nganjuk dan SLB Nganjuk Kota menyantap menu yang didistribusikan dari SPPG di Kelurahan Begadung, Nganjuk.
Menu yang dikonsumsi di antaranya nasi goreng, acar, ayam suwir, dan tahu bulat. Setelah menyantap makanan tersebut, sejumlah siswa kemudian mengalami keluhan kesehatan dan mendapat penanganan di fasilitas kesehatan.
Hingga kini, Pemkab Nganjuk masih melakukan pemantauan terhadap seluruh korban serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan penanganan berjalan optimal.

















