Keracunan Massal MBG di Tiga Sekolah Nganjuk, Praktisi Hukum Desak SPPG Diaudit Menyeluruh

Praktisi Hukum Anang Hartoyo SH prihatin ayas kejadian keracunan massal menu MBG yang menimpa puluhan siswa di Nganjuk (ist)

NGANJUK, srjatim.co.id – Insiden keracunan massal yang dialami puluhan siswa di Kabupaten Nganjuk usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat sorotan. Selain memastikan kondisi para siswa, penelusuran menyeluruh terhadap sumber makanan dinilai perlu segera dilakukan untuk mengungkap penyebab kejadian.

Praktisi hukum Anang Hartoyo SH meminta pemerintah dan seluruh instansi terkait tidak hanya berfokus pada penanganan siswa yang mengalami keluhan. Menurut Anang, aspek pencegahan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan program MBG juga harus menjadi perhatian serius.

Salah satu langkah yang dinilai mendesak ialah melakukan audit internal terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke sekolah. Audit tersebut diperlukan untuk memastikan seluruh tahapan penyediaan makanan telah berjalan sesuai standar keamanan dan kesehatan.

Bacaan Lainnya

“Paling utama adalah keselamatan dan penanganan para siswa. Namun, apabila terdapat kelalaian, harus dilakukan pemeriksaan dan tindakan sesuai ketentuan. SPPG juga perlu segera diaudit secara internal dan dilakukan audit menyeluruh agar persoalan ini terang,” ujar Anang, Rabu (2/9/2026).

Advokat pada AHP Law Office itu menilai pemeriksaan tidak boleh berhenti pada satu tahapan. Penelusuran perlu dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai pengadaan bahan makanan, proses pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, hingga mekanisme distribusi dan makanan diterima siswa.

Jika dalam proses pemeriksaan ditemukan adanya kelalaian maupun pelanggaran, Anang mendorong lembaga berwenang mengambil langkah sesuai ketentuan. Penanganan secara kuratif dan penegakan hukum, menurutnya, diperlukan apabila terdapat unsur kesalahan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Evaluasi menyeluruh penting dilakukan agar kejadian seperti ini tidak kembali terulang. Program MBG harus benar-benar memberikan manfaat dan rasa aman bagi para siswa,” ujarnya.

Untuk diketahui, puluhan siswa, termasuk guru dan penjaga sekolah asal tiga sekolah di Nganjuk dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Rabu siang (2/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

Data sementara mencatat sebanyak 67 siswa mengalami gejala mulai pusing, mual hingga muntah. Mayoritas berasal dari SMAN 3 Nganjuk sebanyak 64 korban. Selain itu SLB Santi Kosala Mastip 1 korban dan SDN Balongpacul Nganjuk 2 korban.

Mereka dirawat di RSUD Nganjuk, RSI Aisyiyah Nganjuk hingga RS Bhayangkara Nganjuk.

Jumlah tersebut masih dalam proses pendataan. Kepastian mengenai penyebab munculnya gejala juga masih menunggu hasil pemeriksaan medis serta investigasi pihak berwenang.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *