NGANJUK, srjatim.co.id – Kepemimpinan perempuan kembali mengemuka di tubuh Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kabupaten Nganjuk. Musyawarah Daerah (Musyda) PD IPM Nganjuk menetapkan Ipmawati Annisa’ Yasfa Azzahra sebagai Ketua Umum dan Ipmawati Arvina Shinta Anggraeni sebagai Sekretaris Umum untuk periode 2026–2028.
Terpilihnya dua kader perempuan tersebut sekaligus memperpanjang kiprah srikandi dalam memimpin organisasi pelajar Muhammadiyah di Kabupaten Nganjuk. Mandat yang diberikan melalui forum Musyda itu diharapkan menjadi pijakan bagi kepemimpinan baru untuk membawa organisasi semakin adaptif menghadapi perubahan zaman.
Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Nganjuk, Muhammad Roissudin, menyambut positif terpilihnya Annisa’ dan Arvina. Dia berharap duet kepemimpinan tersebut mampu menghadirkan energi baru sekaligus mendorong IPM Nganjuk lebih produktif dalam melahirkan karya dan gagasan.
“Selamat dan sukses. Semoga nakhoda baru di bawah kepemimpinan perempuan mampu bertransformasi menjadi organisasi pelajar yang produktif dalam karya dan ide,” ujar Roissudin.
Menurut dia, tantangan pelajar saat ini semakin kompleks. Selain penguatan kaderisasi dan aktivitas organisasi, pelajar harus berhadapan dengan derasnya arus informasi di media sosial.
Karena itu, kemampuan literasi digital menjadi salah satu modal penting bagi kader IPM. Pelajar, lanjut Roissudin, harus mampu memilah informasi sebelum ikut menyebarkannya kepada publik.
“Pelajar hari ini harus menjadi garda terdepan dalam aksi saring sebelum sharing informasi dari media sosial, sehingga informasi yang disampaikan lebih bernilai dan mampu mengedukasi masyarakat,” tukasnya.
Roissudin menilai perkembangan teknologi digital dan perubahan pola komunikasi menuntut organisasi pelajar untuk bergerak lebih progresif. Namun, adaptasi tersebut tetap harus berjalan seiring dengan jati diri IPM sebagai gerakan pelajar Muhammadiyah.
Nilai-nilai keislaman, akhlak, intelektualitas, kaderisasi, serta semangat ke-Muhammadiyahan dinilai tetap menjadi fondasi utama dalam setiap gerakan organisasi.
“Pelajar harus mampu menjadi pengguna teknologi yang kritis, produktif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.
Roissudin yang pernah menjadi bagian dari PD IPM Kabupaten Nganjuk pada 2004 itu berharap kepemimpinan Annisa’ Yasfa Azzahra dan Arvina Shinta Anggraeni tidak berhenti pada pergantian kepengurusan. Duet tersebut diharapkan mampu memperkuat konsolidasi internal sekaligus melahirkan program dan karya yang memberi dampak nyata.
“Semoga amanah baru ini menjadi momentum untuk menghadirkan IPM Nganjuk yang semakin progresif, produktif dalam karya dan gagasan, serta mampu melahirkan kader pelajar yang berkemajuan,” pungkasnya.
Dengan nahkoda baru di tangan dua kader perempuan, PD IPM Nganjuk kini menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa kepemimpinan tersebut mampu menerjemahkan amanah Musyda ke dalam gerakan yang konkret, relevan, dan dekat dengan kebutuhan pelajar di tengah derasnya perubahan digital.

















