Muktamar NU Pakai Kartu Ber-Chip dan AI, Peserta Tinggal Foto KTP via WA

Tim IT Muktamar ke-35 NU Mukorobin Ma'rufi bersama Panitia Lokal sedang meninjau registrasi peserta dan kesiapan Ponpes Tambakberas Jombang (foto : Taufiqur Rachman)

 

JOMBANG, srjatim.co.id – Teknologi kecerdasan buatan bakal menjadi bagian dari pelayanan peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Pemakaian Artificial Intelligence (AI) ini pertama kalinya dalam sejarah, panitia menghadirkan sistem digital berbasis chip dan AI untuk memudahkan akses, informasi, hingga penanganan laporan peserta secara cepat dan terukur.

Bacaan Lainnya

Menurut Tim IT Muktamar ke-35 NU, Mukorobin Ma’rufi, sistem digital yang disiapkan tidak hanya digunakan untuk mengatur akses peserta, tetapi juga membantu mereka memperoleh informasi selama berada di arena Muktamar. Salah satu inovasinya adalah kartu identitas berbasis chip yang dipadukan dengan foto peserta sehingga kartu tidak mudah digunakan atau dipinjamkan kepada orang lain.

“Ini merupakan Muktamar pertama kita di abad kedua NU dan juga menjadi pertama di Muktamar kita yang menggunakan kartu identitas berbasis chip,” ujar Mukorobin sesuai meninjau registrasi peserta Muktamar NU di Tambakberas.

Ia menyebutkan, ketika peserta hendak memasuki gate, sistem dapat mencocokkan kartu dengan foto pemiliknya. Dengan demikian, potensi penyalahgunaan kartu peserta dapat diminimalkan. Panitia juga mengembangkan AI berbasis agen yang dapat membantu peserta mencari informasi, seperti lokasi kamar.

“Peserta cukup memotret kartu identitas menggunakan ponsel dan mengirimkannya melalui WhatsApp, lalu sistem AI akan memberikan informasi mengenai lokasi kamar peserta,” imbuhnya.

Teknologi serupa juga disiapkan untuk membantu menangani laporan kehilangan maupun temuan barang. Peserta yang menemukan barang seperti kartu identitas atau laptop dapat melaporkannya melalui sistem yang terhubung dengan command center, lengkap dengan informasi barang, lokasi temuan, hingga foto barang.

Sistem tersebut juga dirancang untuk menangani laporan kejadian di lapangan, termasuk ketika ada peserta yang sakit atau mengalami insiden. Setiap laporan akan masuk ke sistem untuk kemudian diteruskan kepada petugas yang bertanggung jawab.

“Dengan demikian hitungan menit, tidak sampai jam, kita sudah langsung ada yang menangani di lapangan,” jelasnya.

Ia berharap penerapan teknologi tersebut dapat membuat pelayanan Muktamar menjadi lebih cepat, terukur, dan responsif. Dengan sistem terintegrasi, panitia dapat memantau berbagai persoalan sekaligus memastikan setiap laporan mendapatkan tindak lanjut. Bahkan, pada sistem ini juga dilengkapi mekanisme pemantauan batas waktu penanganan laporan atau Service Level Agreement (SLA).

Kemudian, setiap laporan memiliki target waktu penyelesaian yang dipantau melalui command center. Apabila sebuah laporan melewati batas waktu yang ditentukan, sistem akan memberikan tanda peringatan sehingga petugas penanggung jawab dapat segera diketahui.

“Ini langsung merah. Ini siapa penanggung jawabnya, kita langsung tahu,” pungkas Mukorobin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *