Misteri Beras SPHP di Penggilingan Padi Nganjuk, Benarkah Dioplos Jadi Premium lalu Dipasok ke MBG?

Sebuah usaha penggilingan padi Kecamatan Loceret, Nganjuk, menjadi sorotan karena temuan ratusan kemasan beras premium di dalamnya

NGANJUK, srjatim.co.id – Sebuah tempat penggilingan padi di Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, tengah disorot. Pemicunya adalah rekaman video yang memperlihatkan keberadaan ratusan kemasan beras berlabel Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di lokasi tersebut.

Menurut informasi yang dihimpun, aktivitas di penggilingan padi itu dikelola oleh seseorang bernama S. Ia adalah orang dekat pemilik usaha penggilangan padi tersebut yang bernama H alias A.

Mereka diduga melakukan praktik pengoplosan beras SPHP dengan beras kualitas premium. Beras tersebut, menurut informasi yang diterima awak media, kemudian diduga dikemas kembali menggunakan merek-merek beras yang telah dikenal masyarakat sebelum dipasok untuk kebutuhan tertentu, termasuk yang disebut-sebut berkaitan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Bacaan Lainnya

“Beras SPHP dioplos premium, dikemas plastik bermerek Rojo Lele, dikirim ke MBG, Mas,” ujar seorang sumber, Rabu (9/9/2026).

Sumber itu juga menyebut S sebagai pengusaha beras dengan jaringan usaha yang cukup besar di Kabupaten Nganjuk. “Kelas kakap, Mas,” beber sumber tersebut.

Namun, saat dikonfirmasi terkait dugaan keterlibatannya dalam aktivitas penggilingan maupun tudingan sebagai pihak yang mendanai kegiatan tertentu, ia membantah seluruhnya. “Enggak benar, Pak,” aku S.

Ketika pertanyaan mengenai dugaan dirinya sebagai pendana kembali diajukan, jawabannya tak berubah. “Enggak sama sekali,” imbuhnya.

S tidak menyangkal mengenal lokasi penggilingan maupun pengelolanya. Ia mengakui pernah menggunakan jasa penggilingan tersebut pada Maret 2025.

Namun, menurutnya, aktivitas itu sama sekali tidak berkaitan dengan bisnis beras premium, apalagi dugaan pengemasan ulang beras SPHP. “Pernah menggiling di sana, Maret 2025,” ujarnya.

Menurut S, hasil pertanian yang dibawanya ke lokasi tersebut digiling menjadi beras pecah kulit untuk kemudian dijual. “Untuk dijualnya beras pecah kulit, Pak,” lanjutnya.

Ia menjelaskan komunikasi dengan H alias Alf bermula dari aktivitas menggiling hasil panen. Sebagian hasil pertaniannya, kata S, juga pernah dijemur di lokasi tersebut. “Dari Maret itu kan saya titip giling di sana. Komunikasinya dengan A,” katanya.

S mengaku dirinya tidak menyewa tempat maupun mempekerjakan pengelola penggilingan untuk menjalankan usaha tertentu. “Saya jemur, saya titip giling. Itu saja,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah H pernah bekerja untuk dirinya atau mengakomodasi aktivitas bisnis berasnya, S juga membantah. “Enggak ada. Enggak pernah. Saya jemur, saya titip giling. Itu saja.”

Menurut S, aktivitas menggiling di tempat tersebut merupakan hal biasa. Ia mengibaratkan dirinya hanya sebagai salah satu warga yang menggunakan jasa penggilingan. “Ya giling, Pak. Di sana kan seperti tetangga-tetangga ikut giling,” urainya.

Lebih lanjut, S mengaku terakhir kali berada di penggilingan itu pada Agustus 2026. Namun, bukan untuk urusan beras.

“Terakhir aku bulan apa ya? Agustus terakhir masih ke sana, 30 itu. Untuk jemur jagung,” katanya.

Menurut dia, aktivitas yang diketahuinya di lokasi tersebut belakangan lebih banyak berkaitan dengan penjemuran jagung. “Kalau aktivitas di sana buat open, jemur jagung,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi secara khusus mengenai aktivitas beras yang kini menjadi sorotan, S mengaku tidak mengetahui apa pun. “Enggak ada sama sekali,” katanya.

Termasuk keberadaan kemasan beras SPHP yang sebelumnya terekam berada di lokasi penggilingan, S mengaku baru mengetahui informasi tersebut setelah muncul dalam pemberitaan media. “Saya dengar dari media,” ujarnya.

S menyebut bahwa setiap kali datang ke lokasi, yang dilihatnya bukan aktivitas pengemasan beras sebagaimana yang kini menjadi sorotan. “Gak ada, adanya jagung saya,” akunya.

 

Dari Kemasan SPHP hingga Merek Premium

Keberadaan kemasan beras SPHP di penggilingan tersebut telah memunculkan pertanyaan publik. Apalagi, dari penelusuran di lokasi juga ditemukan berbagai jenis kemasan beras lain, termasuk kemasan beras premium dan kemasan bantuan pangan.

Temuan tersebut kemudian memunculkan dugaan adanya aktivitas pengemasan ulang. Bahkan, informasi yang berkembang menyebut beras dari kemasan tertentu diduga dicampur sebelum dikemas kembali menggunakan merek lain yang lebih dikenal di pasaran.

Namun hingga kini, belum ada bukti yang dapat dipublikasikan secara definitif untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi praktik pengoplosan beras atau penyalahgunaan distribusi beras SPHP.

Benarkah Ada Jejak menuju Pasokan MBG?
Informasi mengenai dugaan pasokan beras ke SPPG atau program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bagian paling sensitif dalam rangkaian informasi yang berkembang.
Sumber menyebut adanya dugaan bahwa beras yang telah dicampur dan dikemas menggunakan merek tertentu kemudian masuk dalam jalur pasokan kebutuhan program tersebut.

Namun informasi itu juga masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.

Belum dapat dipastikan apakah terdapat hubungan langsung antara aktivitas di penggilingan Loceret dengan rantai pasokan beras untuk SPPG. Diperlukan penelusuran terhadap dokumen pembelian, jalur distribusi, identitas pemasok, penerima barang hingga kesesuaian antara volume beras yang masuk dan keluar dari lokasi.

Di titik inilah pemeriksaan menjadi penting.
Jika memang tidak ditemukan pelanggaran, penelusuran menyeluruh justru diperlukan untuk membersihkan nama pihak-pihak yang telah disebut dalam berbagai informasi.

Sebaliknya, apabila ditemukan adanya penyimpangan dalam distribusi, pencampuran, pengemasan ulang atau penggunaan beras bersubsidi yang tidak sesuai peruntukannya, maka perkara tersebut perlu ditindaklanjuti berdasarkan ketentuan hukum dan tata kelola pangan yang berlaku.

 

Pengusaha Tetap Membantah

S sendiri tetap pada keterangannya.
Ia menyatakan tidak terlibat dalam aktivitas beras SPHP di lokasi tersebut. Ia juga membantah sebagai pendana maupun pihak yang menjalankan bisnis pengemasan beras premium di penggilingan tersebut.

Usahanya, kata dia, berkaitan dengan pakan ternak dan hasil pertanian. Sebagian hasil panen yang digiling dijual kepada masyarakat dalam jumlah relatif kecil. “Pakan ternak sama petani, Pak,” ujarnya.

Ia juga membantah pernah menjual beras dalam kemasan bermerek tertentu. “Enggak pernah,” ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai merek kemasan Beras Botani yang sebelumnya ditemukan di lokasi, S kembali mengatakan tidak mengetahui asal-usul kemasan tersebut. “Enggak tahu, merek kemasan beras banyak, enggak tahu,” bebernya.

Pernyataan tersebut membuat penelusuran terhadap aktivitas penggilingan di Loceret memasuki babak baru.

Nama S memang telah muncul dalam informasi yang beredar. Namun, S secara terbuka telah memberikan bantahan.

Karena itu, misteri siapa yang berada di balik keberadaan beras SPHP, kemasan premium, serta berbagai aktivitas pengepakan di lokasi tersebut belum dapat dijawab hanya berdasarkan tudingan dan pengakuan satu pihak.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *