NGANJUK, srjatim.co.id – Impian Mbah Sojo, (65), lansia asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Bagor untuk memiliki tempat tinggal yang layak akhirnya terwujud. Setelah 20 tahun lebih tinggal di rumah reyot bekas kandang, ia kini mendapat bantuan bedah rumah agar bisa tinggal di hunian yang lebih layak.
Bantuan bedah rumah tersebut diinisiasi oleh para jurnalis yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nganjuk, berkerjasama dengan Polres Nganjuk.
Selain itu, aksi kolaborasi ini juga mendapat dukungan lintas sektor, di antaranya Baznas Nganjuk, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKPP) Kabupaten Nganjuk, Pemerintah Kabupaten Nganjuk, PLN ULP Nganjuk, hingga komunitas sosial Nganjuk Peduli.
Pantauan srjatim.co.id, proses bedah rumah dimulai Selasa pagi (14/7/2026), dengan merobohkan bangunan lama yang kondisinya sudah lapuk dan membahayakan. Kegiatan itu melibatkan kerja bakti warga sekitar, relawan Komunitas Nganjuk Peduli, personel Polsek Bagor, Polres Nganjuk, hingga anggota PWI Nganjuk.
Ketua PWI Nganjuk Bagus Jati Kusumo mengatakan, pihaknya sengaja melakukan aksi sosial bedah rumah untuk Mbah Sojo dengan menggandeng Polres Nganjuk. Di mana, momentumnya bertepatan dengan HUT Ke-80 Bhayangkara.
“Sekaligus sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan, seperti Mbah Sojo ini,” ujar Bagus.
Selain Polres Nganjuk, lanjut Bagus, aksi sosial ini juga mendapat dukungan lintas sektor, di antaranya Baznas Nganjuk, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKPP) Kabupaten Nganjuk, Pemerintah Kabupaten Nganjuk, PLN ULP Nganjuk, hingga komunitas sosial Nganjuk Peduli
Bagus mengatakan, program bedah rumah ini berawal dari pemberitaan mengenai kondisi Mbah Sojo yang hidup seorang diri di rumah tidak layak huni.
“Berawal dari pemberitaan sebelumnya yang diangkat teman-teman tentang kondisi Mbah Sojo yang hidup dengan serba keterbatasan. Oleh karena itu kami tergerak untuk membantu Mbah Sojo,” ujar Bagus.
Menurutnya, kegiatan sosial seperti ini diharapkan terus berlanjut agar semakin banyak masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat merasakan manfaatnya. Ia juga menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program tersebut.
“Kami selalu membuka diri untuk saling bergandengan tangan, gotong royong agar meringankan beban warga masyarakat di Kabupaten Nganjuk,” imbuhnya.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Nganjuk AKP Fajar Kurniadi menyebut program bedah rumah merupakan wujud nyata kepedulian Polri kepada masyarakat, khususnya dalam momentum Hari Bhayangkara ke-80.
Menurutnya, kondisi rumah Mbah Sojo yang sudah tidak layak huni menjadi alasan utama program tersebut dilaksanakan.
“Kondisi Mbah Sojo saat ini dia tinggal sendiri. Rumahnya sudah tidak layak huni. Makanya dari rekan-rekan PWI juga dari kepolisian membantu untuk memfasilitasi kegiatan bedah rumah ini,” ujar Fajar.
Fajar berharap sinergi antara Polri, insan pers, pemerintah daerah, Baznas, dan berbagai elemen masyarakat dapat terus berlanjut sehingga program serupa bisa menjangkau lebih banyak warga di Kabupaten Nganjuk.
“Kita berharap sinergi dengan pihak-pihak terkait, dengan rekan-rekan PWI, dengan rekan Polri, Baznas, juga Perkim untuk bisa nantinya dilaksanakan di daerah-daerah sekitar wilayah Nganjuk,” imbuhnya.
Mbah Sojo sendiri tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat melihat rumah yang selama puluhan tahun ditempatinya mulai dirobohkan untuk dibangun kembali. Matanya berkaca-kaca menyaksikan harapan baru yang akhirnya datang di penghujung usianya.
“Bahagia sekali rasanya. Saya tidak bisa ngomong. Pokoknya terima kasih kepada Pak Kapolres, PWI, Baznas, Pemerintah, semuanya,” ucap Sojo.
Sebelumnya, kisah Mbah Sojo menyita perhatian setelah diberitakan hidup seorang diri di rumah reyot yang telah berdiri lebih dari 20 tahun. Atap rumah bocor, dinding rapuh, tanpa sambungan listrik pribadi, serta tidur hanya beralaskan tikar menjadi potret kesehariannya.
















