NGANJUK, srjatim.co.id – Di sebuah perkampungan lereng Gunung Wilis, Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, ada perajin batik lokal yang tetap eksis bertahan belasan tahun.
Namanya Yatilah. Wanita parobaya itu memproduksi sendiri kain batik dengan corak khas lokal di rumahnya, yang merangkap studio workshop.
Lembaran kain putih satu persatu diubah menjadi karya penuh warna. Di tangan Yatilah, setiap goresan canting bukan sekadar motif. Ada ketekunan, kearifan lokal, sekaligus harapan untuk menjaga batik tulis tetap hidup.
Bersama suaminya, Yulianto, Yatilah merintis usaha batik tulis yang diberi nama Batik Jati Waras sejak 2012. Usaha itu bermula dari langkah sederhana. Kala itu, Yatilah hanya membuat taplak meja.
Seiring waktu, keterampilan dan keberaniannya berkembang. Setelah merasa cukup menguasai teknik membatik, dia mulai memproduksi kain untuk pakaian. Produk itulah yang kemudian ditekuni hingga sekarang.
“Awalnya saya hanya membuat taplak meja. Setelah mulai mahir, saya mencoba membuat batik untuk baju dan ternyata terus berkembang sampai sekarang,” ujar Yatilah.
Proses membatik bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Dibutuhkan kesabaran sejak tahap membuat pola, mencanting, pewarnaan, pencelupan hingga proses pengeringan. Setiap tahapan dikerjakan dengan teliti agar menghasilkan kain batik yang memiliki karakter.
Bagi Yatilah, motif juga menjadi bagian penting dalam setiap karya. Nama Jati Waras terinspirasi dari lingkungan tempat tinggalnya.
Motif pohon jati menjadi salah satu identitas yang diangkat sebagai representasi kearifan lokal Jatigreges dan wilayah Kecamatan Pace.
Namun, kreativitas itu tidak berhenti pada satu motif. Yatilah juga mengembangkan sejumlah pola berdasarkan potensi dan kehidupan masyarakat sekitar. Salah satunya motif cabai yang kini banyak ditanam warga.
“Motif yang kami angkat itu banyak mengambil kearifan lokal, termasuk tanaman yang memang tumbuh di Desa Jatigreges dan sekitar Kecamatan Pace,” katanya.
“Sekarang banyak masyarakat yang menanam cabai. Karena itu, kami mencoba mengangkatnya menjadi motif batik,” lanjut Yatilah.
Selain motif cabai, Batik Jati Waras juga mengembangkan motif yang mengangkat identitas Kabupaten Nganjuk, salah satunya simbol Jayastamba. Pesanan dengan motif tertentu juga dilayani sesuai permintaan pelanggan.
“Kalau pelanggan punya keinginan motif tertentu, kami juga bisa menyesuaikan. Jadi motifnya tidak hanya satu, tetapi bisa berkembang mengikuti permintaan,” tuturnya.
Di balik kreativitas tersebut, Yatilah masih menghadapi persoalan klasik yang kerap membayangi pelaku usaha kecil: modal. Keterbatasan permodalan membuat kapasitas produksi dan pengembangan usaha belum bisa dilakukan secara maksimal.
“Yang menjadi kendala kami sekarang adalah permodalan. Kalau modalnya terbatas, tentu kami kesulitan untuk mengembangkan usaha lebih besar,” ungkapnya.
Menurut dia, dukungan pemerintah daerah sangat dibutuhkan, bukan hanya dalam bentuk bantuan modal. Akses pemasaran juga menjadi bagian penting agar produk batik tulis lokal memiliki pasar yang lebih luas.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, baik untuk permodalan maupun membantu pemasaran produk batik,” harap Yatilah.
Harapan itu, kata dia, tidak hanya ditujukan untuk dirinya. Para perajin lain yang tergabung dalam Asosiasi Batik Nganjuk juga membutuhkan dukungan agar mampu bertahan sekaligus mengembangkan usaha.
“Harapannya bukan hanya saya yang dibantu. Semua perajin yang tergabung dalam Asosiasi Batik Nganjuk juga bisa mendapatkan perhatian dan dukungan,” ujarnya.
Kendati masih dibekap keterbatasan, Yatilah memilih tetap melanjutkan langkah. Sebab, dari kain-kain yang lahir dari ketekunan tangannya bersama sang suami, ada pemasukan yang sedikit demi sedikit membantu menopang ekonomi keluarga.
“Alhamdulillah, meskipun masih banyak keterbatasan, usaha batik tulis ini sedikit banyak bisa membantu mengangkat ekonomi keluarga,” pungkasnya.

















