Usai Presiden Resmikan 1.061 KDKMP, Menkop Tancap Gas Bidik 30 Ribu Unit Tahun Ini

NGANJUK, srjatim.co.id – Pemerintah mulai menggeber percepatan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Setelah diresmikan serentak sebanyak 1.069 unit oleh Presiden Prabowo Subianto di KDKMP Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Sabtu (16/5/2026), target berikutnya dipatok jauh lebih besar.

Hal ini disampaikan Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono. Pihaknya menargetkan pembangunan koperasi desa merah putih bisa menembus lebih dari 30 ribu unit hingga Agustus 2026 mendatang.

“Pak Presiden tadi (saat peresmian) menyampaikan 20 ribu. Tapi PT Agrinas Pangan Nusantara bersama TNI akan berusaha lebih dari target itu. Insyaallah bisa mencapai 30 ribuan,” ujar Ferry usai acara peresmian, Sabtu (16/5/2026).

Peresmian tersebut dihadiri jajaran pejabat negara. Mulai pimpinan lembaga tinggi negara, menteri Kabinet Merah Putih, kepala daerah se-Jawa Timur, hingga unsur TNI-Polri.

Menurut Ferry, kehadiran para pejabat menjadi penanda bahwa program ini menjadi prioritas nasional.

Lebih lanjut Ferry mengatakan, saat ini hampir o ribu unit koperasi merah putih yang sudah rampung secara fisik dan siap operasional. Namun, yang diresmikan serentak baru 1.069 unit sesuai arahan presiden.

“Ini awal operasional. Bangunan, barang dagangan, sampai pekerjanya tadi sudah dicek langsung oleh Bapak Presiden,” imbuhnya.

Ferry menambahkan, KDKMP diproyeksikan bukan sekadar toko kebutuhan pokok. Koperasi ini juga disiapkan menjadi penampung produk-produk warga. Terutama hasil usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) desa.

Menurutnya, koperasi akan berfungsi sebagai offtaker atau penyerap hasil produksi masyarakat. Dengan skema itu, produk lokal desa diharapkan memiliki pasar tetap sekaligus mendongkrak ekonomi warga.

Untuk wilayah dengan lahan terbatas, khususnya kawasan kelurahan, Ferry mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji model pembangunan vertikal.

“Skema ini disiapkan agar koperasi tetap bisa dibangun di daerah padat penduduk, dengan luas tanah di bawah 1.000 meter persegi,” tandas Ferry.

Ketua KDKMP Desa Nglawak, Mursid Sutaryanto mengatakan, antusiasme warga cukup tinggi sejak koperasi mulai beroperasi. Salah satu alasan utamanya, harga barang di koperasi jauh lebih murah dibanding harga pasaran.

“Barang-barangnya murah karena langsung dari pabrikan ke koperasi. Jadi harganya bisa ditekan. Ini yang paling dirasakan masyarakat,” ujar Mursid, usai peresmian.

Selisih harga disebutnya cukup mencolok pada sejumlah kebutuhan pokok. Misalnya LPG yang di KDKMP dijual sekitar Rp 16 ribu, sementara di luar mencapai Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu. Begitu juga minyak goreng yang dijual sekitar Rp 15.700 per kemasan.

“Kalau ibu-ibu, selisih Rp 1.000 saja dicari. Apalagi di sini selisihnya bisa sampai Rp 6.000, sangat membantu sekali,” ujarnya.

Tak hanya menjual barang kebutuhan, koperasi juga mulai menampung produk UMKM lokal. Di antaranya olahan bawang merah dan makanan ringan produksi warga desa.

“Seluruh pegawai yang bekerja di koperasi pun direkrut dari warga desa sini, termasuk anak-anak mudanya,” imbuh Mursid.

Sementara itu, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota memastikan percepatan pembangunan koperasi skala nasional siap dilakukan.

Menurutnya, pengalaman membangun 41 unit hingga 1.061 unit menjadi modal untuk ekspansi lebih besar.

“Kami optimistis. Dengan pola pelatihan 20 orang di setiap gerai, kami siap membuka 20 ribu koperasi berikutnya dalam waktu satu bulan ke depan,” ujar Joao, Sabtu (15/6/2026).

Dukungan penuh juga datang dari TNI. Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita mengatakan, TNI mendukung percepatan pembangunan di bawah koordinasi Kementerian Koperasi dan Kemenko Pangan.

Menurutnya, tantangan pembangunan justru ada di wilayah luar Jawa. Terutama kawasan terpencil seperti Papua dan pulau-pulau kecil yang sulit dijangkau material bangunan.

“Kalau di Jawa relatif tidak ada kendala. Tapi di Papua atau pulau kecil tentu berbeda. Material sulit masuk, akses juga terbatas,” ujar Tandyo.

Untuk mengatasi itu, kata Tandyo, TNI bersama Agrinas menyiapkan distribusi material dalam skala besar ke daerah-daerah sulit. Selain logistik, tenaga pembangunan juga disiapkan dari wilayah yang memiliki sumber daya lebih.

“Daerah yang punya kemampuan lebih akan membantu daerah lain. Itu cara percepatannya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *