Runtuhnya Hati Polisi: Istri dan Anak Dihabisi di Kamar Kos, Jejak Gelap Cinta Terlarang Sang Bayangkari

SR JATIM, Nganjuk — Malam itu, Jalan Monginsidi seperti menyimpan rahasia kelam yang bergetar di balik tembok tipis sebuah kamar kos. Jerit yang menembus dinding, tangis yang dipatahkan, dan nafas yang direnggut paksa—semua menyatu dalam tragedi yang membelah hati seorang polisi, ayah, dan suami.

Di kamar nomor 5, Meilysa Putri (27) duduk terpaku. Pukul 23.00 WIB, suara yang tak pernah ia bayangkan muncul dari kamar nomor 2—kamar yang sehari-hari hanya dilalui tanpa curiga.

Tak ada cekcok. Tak ada suara pecah. Hanya jeritan lirih yang memuncak menjadi teriakan minta tolong. Tangis perempuan. Parau seorang anak. Dan detak bahaya yang merayap di balik dinding.

“Suaranya kencang sekali… seperti seseorang direnggut paksa dari hidupnya,” ujar Meilysa dengan mata menerawang.
Namun keberanian tak selalu datang bersama kepedihan. Meilysa menahan diri, diam dalam ketakutan. Hingga jeritan itu tiba-tiba padam—sunyi yang terasa lebih menakutkan daripada suara apa pun.

Ketika ia keluar, dunia seakan terbelah: seorang pria muncul, pakaiannya basah oleh darah yang belum kering. Ia masuk lagi, lalu keluar kembali menggenggam pisau yang masih menetes. Pisau itu ditodongkan pada Meilysa dan tetangga kamar 1—sebuah ancaman yang membekukan langkah, memaksa mereka bersembunyi dalam kunci kamar masing-masing.
Lalu bau itu datang. Menyelinap, menusuk: bensin.

Api menyala, memanjat cepat ke perabotan kamar 2, seakan ingin mengubur semua bukti—juga semua cerita.
Warga berdatangan. Mereka memadamkan api dengan tangan gemetar, sementara pria bersenjata itu lenyap ditelan malam.
Dari kamar itu, polisi mengevakuasi tiga korban, satu keluarga yang hidupnya terputus oleh cinta gelap yang mengkhianati segalanya:

Elvy Nurhayati (41) – ibu yang meregang nyawa

Ellinda Jelsa Ika Eldianti (22) – putri yang ikut terenggut

ED (18) – anak bungsu, bertahan dengan nyawa teriris tipis

Mereka adalah keluarga seorang anggota polisi asal Kecamatan Purwoasri, Kediri. Sebuah keluarga yang esok paginya tak lagi utuh.

Jenazah ibu dan anak dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk. Yang selamat—jika itu bisa disebut selamat—dirawat intensif, di antara hidup dan mati.
Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Sukaca, hanya berkata pendek.

“Masih pemeriksaan dan pendalaman.”
Di depan kamar itu, garis polisi terbentang. Sisa-sisa barang hangus berserakan seperti serpihan hati yang tak bisa disatukan kembali.

Dan di suatu tempat, seorang polisi menahan gemuruh duka yang tak terkatakan—karena rumahnya runtuh bukan oleh takdir, tetapi oleh pengkhianatan dan tangan berdarah yang pernah dipercayai istrinya.

Reporter : Etna Laila
Editor : SR JATIM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *