SR JATIM – Senyum merekah terpancar dari raut wajah Brigpol Aderay Putra Perdana setelah menginjakkan kaki di tanah kelahirannya selepas mengemban tugas dalam misi perdamaian PBB di Afrika Tengah.
Di balik kepulangannya, tersimpan kisah panjang tentang pengabdian, rindu yang ditahan dan keteguhan hati seorang anak bangsa yang rela meninggalkan anak istrinya demi mengemban tugas negara.
Menjalankan tugas negara di negeri orang sebagai Satgas Garuda Bhayangkara FPU 6 Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic (MINUSCA) dalam misi perdamaian PBB di Afrika Tengah memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi anggota Polres Kediri Kota itu.
Namun dibalik semuanya itu, ada pengorbanan yang tak mudah. Ia harus rela meninggalkan keluarga, mengorbankan harta, jiwa dan raganya demi mengemban misi mulia.
Sebagai anggota Polri yang harus menjunjung tinggi dedikasi, keikutsertaannya dalam misi internasional itu bukan keputusan yang datang tiba-tiba.
Melainkan telah tertanam sejak lama sebagai wujud dedikasi untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah global. Namun, cita-cita itu datang bersama tantangan yang tak sedikit. Setiba disana ia sempat mengalami culture shock hingga lambat laun dapat beradaptasi.
Kondisi yang berbeda jika dibandingkan Indonesia membuat Putra harus beradaptasi dengan cuaca, makanan, hingga bahasa Prancis yang menjadi bahasa utama masyarakat setempat. Meski telah belajar sebelum berangkat, ia tetap harus memperdalam kemampuan komunikasi selama bertugas.
“Di sana cuacanya jauh berbeda dengan Indonesia. Afrika jauh lebih panas,” cerita Brigpol Putra.
Selama setahun disana, bersama timnya ia menjalankan tugasnya mulai dari patroli, quick response force (QRF), pengawalan, hingga penjagaan objek vital. Pengalaman suka dan duka ia alami, mulai dari tantangan komunikasi hingga interaksi dengan masyarakat yang tidak selalu mudah.
“Masyarakat di sana tidak semuanya mau diajak ngobrol. Kita tetap melakukan pendekatan persuasif dan memberikan imbauan,” imbuhnya.
Tak hanya soal cuaca yang panas, akan tetapi juga kondisi keamanannya yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawanya. Namun dibalik itu tantangan lain terbesar bagi Putra bukan hanya di medan tugas, melainkan menahan rasa rindu yang sering datang tiba-tiba.
Dengan akses komunikasi yang terbatas, ia hanya bisa menghubungi keluarga beberapa kali dalam seminggu, itu pun dengan durasi singkat.
“Komunikasi seminggu bisa empat kali, itu pun sebentar karena sinyalnya sulit,” ungkapnya.
Meski bertugas di wilayah rawan konflik, Putra tetap menjalankan amanah dengan penuh persiapan dan memohon doa restu dari orang tua serta istri agar selalu diberi keselamatan. Kini, setelah menyelesaikan misi perdamaian, Putra kembali bertugas di Satlantas Polres Kediri Kota.
“Saya sangat senang bisa kumpul kembali bersama keluarga, termasuk bertemu teman-teman di Polres Kediri Kota,” pungkasnya.
Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim, menyampaikan apresiasi atas dedikasi Putra selama menjalankan misi internasional itu. Pengalaman Putra selama bertugas di Afrika Tengah diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi anggota lainnya dan memberi nilai tambah dalam pelaksanaan tugas kepolisian di Kediri.
“Kami bangga atas pengabdian Brigpol Putra yang telah membawa nama baik Polri, khususnya Polres Kediri Kota, di kancah internasional. Penugasan misi PBB bukan hal ringan. Ia telah menunjukkan profesionalisme dan loyalitas yang tinggi. Selamat kembali ke rumah dan selamat bertugas kembali,” kata AKBP Anggi Saputra Ibrahim.
Reporter : Prasetya
Editor : SR Jatim





